Oleh : Fhatur Rohman
Pengurus Nasional Karang Taruna “PNKT”
Di saat sebagian besar warga sibuk memilah resolusi tahun baru antara keinginan menjadi pribadi yang lebih baik atau menaikkan saldo tabungan, alam di Sumatera punya agenda sendiri. Di penghujung 2025 menuju fajar 2026, langit di atas Bukit Barisan tidak mengirimkan kembang api, melainkan curah hujan ekstrem yang mengubah wajah jalan lintas menjadi aliran sungai dan lereng hijau menjadi luruh tanah yang kelabu.
Ada ironi yang menggelitik, setiap kali kita bicara “Tahun Baru” di tengah bencana. Tahun baru adalah konstruksi manusia, sebuah kesepakatan di kertas kalender. Namun, banjir, galodo, dan tanah longsor tidak pernah membaca kalender, tidak mengenal tanggal merah, tidak peduli pada cuti bersama, dan tentu saja, tidak butuh reservasi hotel untuk datang bertamu ke ruang tamu warganya.
Paradoks Perayaan dan Pengabdian
Di tengah situasi ini, narasi yang sering muncul adalah duka. Namun, ada satu pemandangan yang luput dari hingar-bingar media sosial yakni deru mesin ekskavator di tengah malam buta dan seragam-seragam jingga serta cokelat yang basah kuyup saat dunia sedang bersulang “Happy New Year”.
Kita perlu jujur secara intelektual bahwa ada pergeseran paradigma dalam penanganan bencana kita. Jika dulu pemerintah sering dituding baru hadir setelah air surut, kini kita melihat sebuah anomali positif. Respon pemerintah tampak sedang mencoba “melawan” hukum alam yang tak berkalender itu dengan komitmen yang juga tak mengenal hari libur.
Ketika jembatan di lintas Sumatera terputus, kita tidak lagi hanya melihat bupati atau gubernur berfoto di depan baliho ucapan selamat tahun baru. Kita melihat instruksi menteri yang turun bahkan sebelum terompet tahun baru ditiup. Ini adalah jenis pesta yang berbeda pesta kerja keras di bawah guyuran hujan. Sebuah dedikasi yang secara satir bisa kita sebut sebagai “hobi buruk” birokrasi kita yang baru hobi tidak bisa tidur selama rakyatnya terancam.
Sumatera secara geologis adalah wilayah yang “cantik namun rapuh”. Posisinya di jalur tektonik dan topografi pegunungan membuat bencana hidrometeorologi bukan lagi tamu tak diundang, melainkan penghuni tetap. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan terus menjadi pemadam kebakaran setiap tahunnya?
Dukungan kita terhadap pemerintah saat ini didasarkan pada optimisme bahwa mitigasi mulai dipandang sebagai investasi, bukan beban anggaran. Pembangunan bendungan, normalisasi sungai, dan sistem peringatan dini (EWS) yang terus diperbaiki di sepanjang pesisir barat hingga timur Sumatera adalah kado tahun baru yang lebih esensial daripada sekadar festival musik.
Sinergi Tanpa Ego Struktural
Namun, tentu saja, ada sisi menggelitik dalam hubungan rakyat dan pemerintah saat bencana. Warga seringkali menuntut pemerintah bekerja seperti “Pahlawan Marvel” sekali jentik jari, banjir hilang. Padahal, mengurus air tidak semudah membalikkan telapak tangan atau mengganti foto profil WhatsApp. Dibutuhkan ketekunan teknokratis yang seringkali tidak tampak di kamera, namun terasa di lapangan.
Keberhasilan penanganan bencana di awal 2026 ini menunjukkan bahwa koordinasi pusat dan daerah bukan lagi sekadar jargon di atas kertas bermaterai. Saat logistik bergerak cepat menembus isolasi di pedalaman Sumatera, di sana ada kerja sama yang tidak mengenal ego sektoral. Ini adalah capaian yang patut diapresiasi, karena biasanya, birokrasi kita paling hobi “oper bola” jika masalah sudah menyentuh wilayah perbatasan.
Kita melihat bagaimana BNPB, Kementerian Sosial, hingga TNI/Polri bahu-membahu. Mereka adalah orang-orang yang merelakan makan malam tahun baru bersama keluarga demi memastikan nasi bungkus sampai ke tangan pengungsi. Jika ini bukan sebuah prestasi moral, lalu apa lagi?
Asta Cita “Negara Hadir Bukan Sekadar Mampir”
Dukungan pemerintah terhadap warga Sumatera di tengah bencana ini adalah implementasi dari filosofi “Negara hadir”. Dalam visi Asta Cita, keamanan warga negara adalah prioritas tertinggi. Keamanan di sini tidak hanya berarti perlindungan dari ancaman kedaulatan, tetapi juga keamanan insani (human security) dari amukan alam.
Ketika jembatan di Lintas Sumatera terputus, kita tidak lagi melihat birokrasi yang saling lempar tanggung jawab. Di bawah komando pusat yang menyelaraskan gerak daerah, pengerahan alat berat dan bantuan logistik mengalir lewat jalur udara dan darat tanpa menunggu “instruksi besok pagi”. Ini adalah bukti bahwa semangat Asta Cita untuk memperkuat pembangunan dari bawah dan menjamin pemerataan ekonomi tidak akan membiarkan Sumatera terisolasi terlalu lama oleh lumpur.
Sangat menggelitik jika kita melihat bagaimana birokrasi kita kini dipaksa memiliki “napas militer” cekatan, taktis, dan tanpa jeda. Jika dulu pejabat kita lebih sering terlihat di baliho selamat tahun baru, kini mereka lebih banyak terlihat memakai sepatu bot di kubangan air. Inilah “kado” tahun baru yang sesungguhnya pemerintah yang lebih suka lembur daripada pamer tutur.
Harapan Baru “Lebih dari Sekadar Kalender”
Harapan baru di tahun 2026 ini bukan hanya soal Sumatera yang bebas bencana karena, itu nyaris mustahil selama kita masih tinggal di planet yang dinamis ini. Harapan barunya adalah lahirnya budaya kesiapsiagaan yang permanen.
Kita menginginkan pemerintah yang terus “libur” dari retorika, tapi “lembur” dalam bekerja. Kita mendukung langkah-langkah darurat yang cepat, namun kita tetap menagih solusi jangka panjang yang sifatnya struktural. Kebijakan lingkungan harus selaras dengan izin-izin pembangunan. Jangan sampai di satu sisi pemerintah sibuk memperbaiki jembatan yang runtuh, namun di sisi lain izin pembukaan lahan di hulu tetap lancar jaya layaknya jalan tol.
Bencana memang tidak mengenal kalender. Ia bisa datang kapan saja, menusuk di sela-sela euforia kembang api. Namun, melihat bagaimana mesin birokrasi dan relawan kita bekerja tanpa jeda di awal tahun ini, kita punya alasan untuk tetap optimistis.
Pemerintah telah menunjukkan bahwa mereka tidak sedang tidur. Respon yang tak pernah libur adalah bentuk penghormatan tertinggi negara terhadap nyawa warganya. Tahun 2026 mungkin dibuka dengan genangan air di Sumatera, tapi ia juga dibuka dengan aliran harapan bahwa kita memiliki nakhoda dan awak kapal yang siap bertarung melawan badai, bahkan saat dunia sedang terlelap dalam perayaan.




