Destinasi Digital “Ketika Otentisitas Mati oleh Algoritm”

8

Vivin Alwan

Ketua Umum Wanita Indonesia Pemerhati Pariwisata “WIPP”

 

Pariwisata modern sedang menghadapi paradoks besar. Teknologi digital khususnya media sosial seperti Instagram dan TikTok telah memicu lonjakan minat berwisata yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Destinasi-destinasi terpencil mendadak menjadi ikon global hanya dalam semalam berkat sebuah unggahan viral. Namun, di sisi lain, revolusi visual ini menuntut harga yang sangat mahal atau dengan kata lain kematian otentisitas.

Judul yang diangkat dalam opini ini “Destinasi Digital “Ketika Otentisitas Mati oleh Algoritma” bukan sekadar hiperbola, melainkan sebuah diagnosa atas penyakit kronis pariwisata kontemporer.

Destinasi tidak lagi hidup sebagai entitas geografis, budaya, dan historis yang unik, melainkan sebagai sebuah aset digital yang nilainya diukur dari seberapa baik ia tampil di layar ponsel. Keindahan tempat wisata kini dihakimi oleh feed yang seragam, sudut pandang yang identik, dan yang paling berbahaya, oleh kacamata algoritma.

Kita tidak lagi mencari pengalaman, tapi mencari konten. Di tengah perburuan konten yang tak pernah usai, jiwa dan narasi asli dari sebuah destinasi pelan-pelan terkikis, digantikan oleh pemandangan yang diciptakan semata-mata demi “Algorithmic Allure”, daya tarik yang diatur oleh sistem.

Misalnya dengan menggunakan daya tarik algoritma yang sering kali memprioritaskan gambar dengan kecerahan tinggi dan komposisi yang jelas karena terbukti lebih menarik perhatian sekilas daripada foto yang natural atau matte.

Anatomi Kematian Otentisitas

Kematian otentisitas ini memiliki tiga pilar utama yang didorong oleh mesin digita: visualitas yang dipaksakan, homogenisasi pengalaman, dan eksploitasi budaya demi konten diantaranya adalah:

“Tiraninya Filter dan Sudut Pandang” Visualitas yang Dipaksakan

Destinasi yang sukses secara digital adalah destinasi yang photogenic. Artinya bahwa ada tuntutan tidak tertulis bagi setiap tempat untuk memiliki “Spot Foto Instagramable” yang sudah ditentukan.

Pemandangan alam yang seharusnya dinikmati dalam keheningan mendadak ramai dengan antrean demi mendapatkan foto di sudut yang sama persis, dengan pose yang sama, dan sering kali, dengan filter warna yang sama.

Fenomena ini menciptakan apa yang disebut “Hyperreality Tourism”. Kita tidak lagi tertarik pada kenyataan tempat itu, melainkan pada representasi digitalnya. Pengelola destinasi, didorong oleh data dan keinginan untuk viral.

Karena itu resikonya harus terpaksa mengubah, membangun, atau bahkan memalsukan elemen-elemen tertentu agar sesuai dengan estetika media sosial yang berlaku misalnya, jembatan kayu yang dicat ulang menjadi warna pastel, atau penambahan properti “estetik” yang sama sekali tidak relevan dengan budaya lokal.

Hasilnya adalah serangkaian destinasi yang tampak indah secara superfisial, tetapi miskin substansial. Wisatawan pulang bukan dengan kenangan mendalam, tetapi dengan koleksi foto yang ironisnya, sulit dibedakan dengan foto-foto ribuan pengunjung lainnya. Tidak bisa dipungkiri pengalaman berwisata telah direduksi menjadi ritual pengambilan gambar, bukan penyerapan atmosfer yang positif.

Ketergantungan pada Itinerary Viral “Homogenisasi Pengalaman”

Algoritma TikTok dan Instagram memiliki kemampuan luar biasa menciptakan tren dan memaksakannya secara global. Ketika sebuah destinasi atau kegiatan menjadi viral misalnya, menyewa baju adat tertentu, makan di kafe tersembunyi yang tiba-tiba tidak lagi tersembunyi, atau mengunjungi titik pandang tertentu pada jam yang sama maka jutaan pengguna akan diarahkan ke sana dan inilah fakta yang terjadi.

Hal ini memicu homogenisasi pengalaman. Destinasi mana pun yang di kunjungi akan disajikan dengan serangkaian aktivitas yang serupa karena semua orang mengikuti itinerary yang sama “Itinerary Algoritma”.

Pengalaman yang seharusnya unik di Sumba, misalnya, tereduksi menjadi kegiatan yang sama seperti di Bali atau Yogyakarta. Eksplorasi digantikan oleh eksekusi daftar tugas yang diunduh dari unggahan travel influencer.

Dampak terburuknya adalah pada destinasi lokal. Ketika desa adat didatangi wisatawan dalam jumlah besar, mereka tidak datang untuk memahami filosofi hidup masyarakat, melainkan untuk menggunakan latar rumah adat sebagai backdrop foto.

Warga lokal dipaksa bertransformasi dari penjaga tradisi menjadi aktor dalam drama pariwisata yang disutradarai oleh tren media sosial.Tradisi lisan, ritual sakral, dan kearifan lokal disingkirkan atau dimodifikasi menjadi pertunjukan komersial yang cepat, demi mengakomodasi siklus posting 24 jam.

Harus Terlihat Bahagia “Eksploitasi Konten dan Tekanan”

Media sosial telah menciptakan sebuah imperative, jika tidak diposting, maka itu tidak terjadi. Hal ini menempatkan beban psikologis yang berat pada wisatawan untuk terus memproduksi konten yang terlihat sempurna, bahagia, dan “hidup”.

Perjalanan tidak lagi menjadi pelarian dari rutinitas, tetapi perpanjangan dari pertunjukan online. Kita menghabiskan waktu berharga saat berwisata untuk mengedit, menulis caption, dan memikirkan jam terbaik untuk mengunggah, alih-alih menikmati momen. Dengan mengorbankan otentisitas pribadi (perasaan kita yang sebenarnya) demi otentisitas digital (citra sempurna yang ingin kita tampilkan).

Di sisi destinasi, praktik ini memunculkan eksploitasi baru. Destinasi yang menjadi viral sering kali tidak siap menghadapi lonjakan pengunjung, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, kemacetan, serta konflik dengan masyarakat lokal.

Algoritma menyebarkan informasi destinasi dengan kecepatan cahaya, namun infrastruktur dan kapasitas budaya sebuah tempat bergerak dengan kecepatan manusiawi. Ketidakseimbangan ini adalah resep sempurna untuk overtourism yang merusak.

Revitalisasi Pengalaman dan Etika Digital Sebagai Jalan Keluar

Membalikkan tren ini tidak berarti kita harus memusuhi teknologi. Destinasi Digital merupakan sebuah keniscayaan ditengan era yang serba digital. Keniscayaan yang perlu diubah adalah filosofi di baliknya. Kita harus mencari cara untuk menempatkan “manusia” dan “tempat” kembali ke pusat algoritma dengan melakukan.

1. Mendorong Narasi Berbasis Nilai, Bukan Visual

Pengelola destinasi dan kemenparekraf perlu secara aktif mempromosikan pariwisata yang berbasis nilai dan narasi, bukan hanya visual yang berarti bahwa:

Pertama pendidikan konten dengan mendorong influencer dan wisatawan untuk menceritakan mengapa tempat itu penting, bukan hanya bagaimana tempat itu terlihat. Dan mengangkat narasi sejarah, tantangan konservasi serta kearifan lokal.

Kedua mengembangkan “Spot Anti-Insta” dengan menciptakan area-area di destinasi yang melarang keras penggunaan ponsel atau didesain untuk dinikmati tanpa perlu difoto, memaksa pengunjung untuk terlibat dalam momen.

Keriga insentif otentisitas dengan memberikan pengakuan atau insentif kepada wisatawan yang mempromosikan interaksi mendalam dengan masyarakat lokal atau kegiatan yang mendukung keberlanjutan.

2. Algoritma untuk Keberlanjutan

Pengembang platform teknologi “terutama startup travel dan platform media sosial” harus didorong untuk mengintegrasikan metrik keberlanjutan dan kapasitas destinasi ke dalam algoritma rekomendasi mereka.

Jika sebuah destinasi mencapai batas daya tampung “seperti Candi Borobudur atau Rinjani”, algoritma harusnya mengurangi visibilitasnya, atau mengarahkan wisatawan ke “Hidden Gems” yang sebanding dan membutuhkan distribusi pengunjung.

Pemerintah daerah harus menyediakan data real-time mengenai kepadatan pengunjung, memungkinkan wisatawan untuk membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab, dan menghindari penumpukan di satu titik. Karena itu algoritma harus menjadi kurator, bukan sekadar pengganda massa.

Konsumsi Konten yang Sadar

Perubahan terbesar harus datang dari kita sebagai konsumen dan produsen konten. Karena itu kita harus berlatih “Digital Detox Tourism”:

1. Tanyakan mengapa saya mengunjungi tempat ini? Apakah karena rekomendasi pribadi, atau karena ia sedang viral?

2. Fokus pada proses, alihkan fokus dari hasil akhir (foto sempurna) ke proses “pengalaman dan interaksi”. Biarkan diri kita terkejut, tersesat, dan merasakan tempat itu tanpa perlu melihatnya dari layar.

3. Hormati batasan budaya sebelum mengambil foto atau vidio tanyakan izin, pahami konteks budayanya, serta jangan mengubah tradisi demi konten. Karena otentisitas destinasi tidak bisa dibeli dengan view atau like.

Menyelamatkan Jiwa Destinasi

Destinasi digital telah memberikan akses tak terbatas kepada dunia, tetapi sekaligus mengancam untuk menelanjangi jiwanya. Jika kita terus membiarkan algoritma yang haus data dan filter menipu serta menguasai cara kita berwisata, maka secara tidak langsung kita akan segera hidup di dunia dimana setiap tempat indah terasa sama, dan setiap pengalaman terasa hampa.

Misi kita sekarang adalah menyelamatkan jiwa destinasi pariwisata Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sebelum sepenuhnya menjadi pajangan digital yang dingin dan tanpa makna.

Kita harus menuntut pariwisata yang “Otentik untuk Dinikmati, bukan sekadar difoto”. Hanya dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa keindahan sejati Indonesia akan bertahan lebih lama daripada tren di feed TikTok dan story Instagram yang hanya berumur 24 jam.