KALEIDOSKOP MUSEUM SEJARAH TERNATE 2025: (Dari Kunjungan Para Jenderal Hingga Menteri Kebudayaan)

61
Peresmian Museum Sejarah Ternate oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir dan Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly dan penulis.

Oleh: Rinto Taib
(Kepala Museum Sejarah Ternate)

 

Tanpa terasa perjalanan satu tahun sepanjang 2025 telah merekam berbagai peristiwa penting dalam ragam cerita menarik bagi keberadaan dan derap langkah pengabdian Museum Sejarah Ternate. Sebuah derap langkah kecil yang diyakini berdampk bagi pencerahan masa depan generasi akan datang untuk tak abai pada kronik sejarah bangsa dan negeri tercinta di masa lalu yang begitu panjang. Kronik tentang peradabannya yang mampuh mengubah tatanan dunia global, kronik tentang tragedi kemanusiaan dan kolonialisme yang menyeret manusia dan alam negeri ini menjadi subjek sekaligus objek roda jaman. Tentu pula kronik tentang sejarah sains dan teknologi global yang beradaptasi ditingkat lokal
.
Perjalanan panjang melalui fase tahunan sejak diaktifkannya sebuah bangunan tinggalan kolonial dalam kawasan benteng Oranje yang dimulai sejak tahun 2019 melalui kegiatan workshop dan pameran bertajuk “Jejak Keilmuan A.R. Wallace”, kemudian bertransformasi menjadi Museum Sejarah Ternate maka sejak itu pula peran Museum Sejarah Ternate semakin dikunjungi oleh para wisatawan hingga membuka ruang tidak semata terbatas dalam hal pelayanan kunjungan saja melainkan juga kerjasama program kolaboratif yang menarik lainnya. Tidak sekedar kunjungan wisatawan domestik semata melainkan juga jejaring global yang bergelut bersama dalam hal ilmu pengetahuan hingga kepariwistaan, dari kunjungan wisatawan asing yang datang dari negara tetangga terdekat Malaysia hingga berbagai negara di belahan Eropa pernah menorehkan kisah di setiap kunjungan mereka.

Keragaman pengunjung dengan minat yang berbeda mengindikasikan pentingnya nilai Museum Sejarah Ternate sebagai sumber informasi dan edukasi yang menarik baagi publik luas tanpa terkecuali. Mulai dari kalangan anak-anak usia dini (Paud) hingga mahasiswa doktoral, mulai dari peneliti lokal hingga peneliti dari lembaga riset nasional dan global. Beragam pula kepentingan dan isu serta informasi yang diperlukan oleh para pengunjung, mulai dari sekedar memenuhi rasa penasaran dan ingin tahu untuk melihat isi museum hingga kunjungan diplomatik kenegaraan berbagai duta besar, para jenderal dari berbagai angkatan bersenjata hingga Menteri.

Sebagaimana kunjungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada Kamis (27/11) sebagai rangkaian kunjungan kerja untuk melihat dan mengetahui lebih mendalam kondisi aktual dari benteng Oranje sebagai salah satu cagar budaya peringkat nasional tersebut. Kunjungan Menteri yang juga didampingi ioleh Sekretaris Provinsi Maluku Utara, Drs. Samsuddin A. Kadir, Sekretaris Kota Ternate, Rizal Marsaoly tersebut guna meninjau kondisi struktur, situs dan benda-benda cagar budaya dalam kawasan benteng Oranje untuk menjadi fokus program pelestarian cagar budaya yang berbasis pada pilar perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.

Disela kunjungan menteri tersebut juga dirangkaikan dengan peresmian Museum Sejarah Ternate yang keseluruhan koleksinya merupakan koleksi pribadi penulis dengan status museum sebagai museum swadaya yang dikelola secara mandiri oleh penulis dengan memanfaatkan sebuah bangunan bersejarah yang dahulunya di era kolonial dijadikan sebagai gudang untuk menyimpan berbagai jenis rempah-rempah terutama Pala dan Cengkeh sebagai komoditi yang sangat bernilai ekonomi ketika itu.

Menteri Kebudayaanpun nampak kagum setelah menginjakkan kaki dan berkunjung ke benteng Oranje dan Museum Sejarah Ternate; “Benteng Oranje, dan juga rumah Wallace di Kelurahan Santiong Kota Ternate adalah bagian dari peninggalan penting yang mencatat jejak panjang perjalanan sejarah bangsa, khususnya di kawasan timur Indonesia. Pemerintah berkomitmen memperkuat upaya pelestarian agar warisan budaya seperti ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” ungkap Fadly sebagaimana ditulis oleh sebuah media lokal.

Tentu rumah Alfred Russel Wallace menjadi salah satu perhatian serius dari Menteri karena kontribusi seorang naturalis Inggris tersebut bagi ilmu pengetahuan dan sains modern yang dikenal luas di seluruh dunia terutama yang berkaitan dengan sejarah alam dan biologi modern. Momentum ini mengingatkan kita akan sebuah negeri asal rempah dimasa lalu, tepat pada bulan Januari tahun 1858, Wallace menginjkkaan kakinya di Ternate, sebuah pulau kecil dalam gugusan kepulauan negeri asal rempah. Negeri yang pernah menjadi episentrum perdagangan dunia jauh sebelum kedatangannya. Ternate, sebuah negeri yang menjadi lokus penting sebagai pusat kekuasaan VOC untuk mengontrol perdagangan rempah dunia diabad ke-17 kala itu.

Dan ketika sang naturalis tersebut mendiami Ternate, dirinya terpukau akan keanekaragaman hayati daerah ini dan negeri-negeri sekitarnya seperti Dodinga di Jailolo – Halmahera Barat, mengamati keberadaan Kupu-kupu Kasiruta di Bacan – Halmahera Selatan hingga gugusan pulau lainnya di kepulauan Nusantara lainnya sebagaimana tercatar dalam karyanya yang sangat monumental “The Malay Archipelago”.

Dari kunjungan dan peresmian Museum Sejarah Ternate oleh Menteri Kebudayaan tersebut kita berharap menjadi momentum penting untuk semakin mendorong kerja-kerja dan agenda-agenda pemajuan kebudayaan, memaajukan bangsa dan negeri tercinta melalui jalan ilmu pengetahuan sains moderen sembari merancang bersama sebuah pembangunan Museum Alfred Russel Wallace bagi kepentingan keilmuan dan kepariwisataan di negeri asal rempah.