Segitiga Penghalang Pertumbuhan Pariwisata Kepulauan Sula

18

Oleh: Fahrin Umarama

 

Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor strategis penopang perekonomian nasional. Pada tahun 2025, sektor ini menyumbang sekitar 4,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan Bali sebagai daerah penyumbang terbesar bagi PDB provinsi. Pariwisata telah menjelma menjadi primadona pertumbuhan ekonomi daerah, menggerakkan rantai ekonomi lokal mulai dari pelaku UMKM hingga aktivitas di bandara dan pelabuhan. Bahkan, Maldives negara yang minim sumber daya alam mampu bertahan dan tumbuh hanya dengan mengandalkan pariwisata bahari dan industri perhotelan.

Namun, pariwisata sejatinya tidak semata-mata bertumpu pada keindahan alam yang alami. Ia merupakan hasil elaborasi dari berbagai potensi yang membentuk nilai (value) khas suatu daerah. Banyak faktor yang dapat mengangkat sebuah wilayah menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi yang paling menentukan adalah diferensiasi. Bali, misalnya, tidak hanya dikenal karena Pantai Kuta dan deretan pantainya, tetapi juga karena kekuatan budaya, arsitektur rumah adat, serta busana tradisional yang tidak dimiliki daerah lain. Demikian pula Lombok, yang selain memiliki pantai seindah Bali, menawarkan wisata Gunung Rinjani serta identitas religius sebagai daerah seribu masjid.

Dalam konteks tersebut, Kepulauan Sula berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena terhimpit oleh tiga wilayah dengan daya tarik pariwisata yang jauh lebih viral dan kompetitif. Pantai Waka dan Fatkauyon memang menawarkan pasir putih, laut yang jernih, serta pepohonan yang tertata alami, tetapi keunggulan ini belum cukup kuat jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Tiga wilayah tersebut adalah Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah di bagian barat, Provinsi Maluku di bagian timur, serta Halmahera dan kepulauan sekitarnya termasuk Ternate sebagai ibu kota provinsi di bagian utara. Secara historis pun, Kepulauan Sula lebih dikenal sebagai wilayah persinggahan Kesultanan Banggai serta kesultanan di Halmahera, Ternate, dan Tidore, bukan sebagai pusat peradaban atau tujuan utama.

Provinsi Maluku memiliki keunggulan wisata yang sangat kuat dan khas. Pantai Pasir Panjang di Kepulauan Kei, misalnya, dikenal memiliki pasir yang sangat halus menyerupai tepung dan disebut-sebut sebagai pasir terhalus kedua di dunia. Keunikan ini menjadi nilai jual yang mahal dan langka karena sulit ditemukan di daerah atau negara lain. Selain itu, Banda Neira telah dikenal secara internasional, tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena narasi sejarah global, termasuk kisah pertukaran Pulau Manhattan (New York) antara Inggris dan Belanda pada masa kolonial.

Halmahera memiliki keunggulan geografis karena jaraknya yang sangat dekat dengan Kota Ternate, hanya ditempuh dalam hitungan menit. Wisatawan yang merasa belum puas dengan destinasi seperti Pantai Sulamadaha atau Danau Tolire dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan ke Halmahera berkat akses transportasi yang lancar. Wilayah ini kaya akan peninggalan sejarah Perang Dunia II, jejak negeri para sultan, Pulau Dodola yang dijuluki “Maldives-nya Indonesia”, serta jajaran gunung tinggi yang menjulang dan menjadi surga bagi para pendaki.

Banggai, Sulawesi Tengah. Banggai menawarkan kekayaan wisata kepulauan yang beragam, mulai dari hamparan pasir putih, perbukitan yang dikenal sebagai Bukit Teletubbies, hingga pesona bawah laut yang memukau bagi pecinta snorkeling dan diving. Selain itu, Banggai juga memiliki air terjun alami serta danau sebening kaca yang menjadikannya destinasi incaran para pelancong domestik maupun mancanegara.

Ketiga wilayah tersebut menjadi gudang destinasi unggulan pariwisata Indonesia Timur yang tidak hanya menjanjikan keindahan, tetapi juga narasi, sejarah, dan identitas yang kuat. Ditambah dengan akses transportasi yang relatif lancar dan terjangkau, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kepulauan Sula dalam mengalihkan perhatian wisatawan agar menjadikan Sula sebagai tujuan utama.

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang telah mengunjungi 16 provinsi hampir setengah dari wilayah Indonesia pemilihan destinasi wisata selalu mempertimbangkan berbagai aspek. Tidak hanya wisata pantai, tetapi juga keberadaan air terjun, danau, gunung, sejarah, budaya, bahkan tata kota dan dinamika perekonomian lokal. Faktor lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan transportasi yang murah, lancar, dan mudah diakses. Sayangnya, sebagian besar opsi dan kemudahan tersebut belum dapat ditemukan di Kepulauan Sula.

Lebih jauh, banyak destinasi wisata di Kepulauan Sula memiliki karakteristik yang serupa dengan daerah lain tanpa keunggulan nilai tambah yang menonjol. Sula tidak memiliki pasir terhalus kedua di dunia seperti Maluku, tidak memiliki Pulau Dodola seperti Morotai, dan tidak memiliki danau sebening kaca seperti Danau Paisu Pok di Banggai. Ketiadaan diferensiasi inilah yang membuat Sula sulit bersaing dalam peta pariwisata regional.

Oleh karena itu, apabila Pemerintah Kepulauan Sula benar-benar ingin menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, maka tantangan yang dihadapi sangatlah besar. Dibutuhkan kajian mendalam, perencanaan berbasis data, serta kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Pariwisata tidak akan tumbuh hanya dengan mengandalkan festival seremonial semata dan klaim kemajuan instan anggapan semacam itu adalah ilusi dan tidak berpijak pada realitas pembangunan pariwisata yang sesungguhnya.