SETELAH BAABULLAH ? (Sekapur Sirih di Hari Jadi Ternate Ke-775)

158
Rinto Taib, M.Si (Anggota Tim Perumus) bersama Prof. Dr. R.Z. Leirissa (Ketua Tim Perumus Sejarah Lahirnya Kota Ternate). Foto/Bappeda Kota Ternate, 2003

Oleh: Rinto Taib

(Tim Perumus Sejarah Lahirnya Kota Ternate)

 

Dalam sebulan terakhir, Pemerintah Kota Ternate menyelenggarakan kegiatan peluncuran dan bedah buku tentang Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional pada Senin, 24 November 2025, bertempat di Pandopo Kesultanan Ternate. Kegiatan ini mendapat respons luas dari masyarakat dan menjadi momentum penting untuk kembali mengingat serta merefleksikan epos kepahlawanan Sultan Baabullah, sosok pejuang sekaligus pemikir humanis yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah. Tentu kegiatan tersebut mengedukasi sekaligus menginspirasi para peserta yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, media, hingga perangkat adat kesultanan Ternate. Sebuah momen untuk menafsir kembali epos kepahlawanan seorang yang multi dimensi, sosok diplomat ulung, seorang pejuang revolusioner sekaligus ahli strategi yang visioner dan menguasai lebih dari tujuh puluhan pulau sebagaimana tertulis dalam dokumen sejarah. Pengaruhnya begitu mendunia meninggalkan jejak hari ini yang menginspirasi berbagai kalangan.

Jauh sebelum diperjuangkan sebagai pahlawan nasional hingga akhirnya ditetapkan oleh pemerintah republik Indonesia pada 10 November 2020 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No 117/ITK/Tahun 2020. Sebuah gelar yang diberikan atas jasa-jasanya mengusir Portugis di era kolonialisme (1575) silam dan pada penghujung tahun 2025 saat ini kementerian Kebudayaan telah menetapkan 83 Cagar Budaya peringkat nasional dan salah satunya adalah makam Sultan Baabbullah. Secara pribadi saya pernah menulis pada kolom opini di Malut Post edisi Desember 2008 (kurang dari 17 tahun silam), bertajuk Sultan Baabullah Pahlawan Nasional?. Melalui perjuangan yang panjang dari opini yang terus bergulir diruang diskursus publik, gerakan parlemen jalanan berupa aksi teatrikal dari tahun ke tahun di setiap batas rezim hingga diplomasi istana yang berakhir manis meskipun belasan tahun isu epos kepahlawanan terus disuarakan oleh berbagai elemen daerah ini.

Dalam skema nasional, gelar kepahlawanan menjadi semakin ramai belakangan ini yang menimbulkan pro dan kontra kepada figur tertentu yang dianggap sebagai tokoh bangsa yang juga dipandang layak menyandang sebagai pahlawan nasional dan disaat yang bersamaan mendapat protes dikelompok yang lain. Pro dan kontra tersebut berlatar dari masa hidup sang tokoh yang kemudian melahirkan tafsir atas peranannya dari status yang melekat. Berbagai pandangan mengalir demikian keras layaknya deras air hujan hingga kebanjiran. Seiring berjalannya waktu, perlahan mulai menghilang gelombang pro dan kontra tersebut. Realitas ini jika diamati selalu saja muncul pada momentum pemberian gelar kepahlawanan atau dibulan hari pahlawan, November pada setiap tahun.

Dibalik pro dan kontra tersebut, sebuah nama selain Sultan Baabullah yang selalu menjadi harapan bagi warga Maluku Utara khususnya kesultanan Ternate dan warga kotanya untuk mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional sebagaimana upaya yang pernah dilakukan untuk memperjuangkannya oleh kesultanan Ternate bersama pemerintah kota Ternate pada tahun 2013 silam. Dialah Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah. Langkah serius tersebut diwujudkan dengan dilaksanakannya Seminar Nasional sebagai salah satu rangkaian kegiatan Festival Legu Gam saat itu. Hal ini tentunya dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi persyaratan pengusulan gelar kepahlawanan yang secara resmi dibuka oleh Wali kota Ternate dengan menghadiakan keynote speaker Drs. HM. Mudaffar Sjah (Sultan Ternate). Makalah Utama disajikan oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Sejarawan Universitas Indonesia), Dr. Sjahril Muhammad, M.Hum (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Maluku Utara) dan pribadi saya (penulis) sebagai Dewan Pakar Kesultanan Ternate ketika itu.

Seminar ini diikuti oleh kalangan akademisi, cendekiawan, tokoh agama, tokoh adat, LSM, media lokal, para guru dan dosen, pelajar dan mahasiswa, dan lain-lain. Setelah mendengarkan paparan Keynote Speak dari Sultan Ternate dan para pembicara serta diskusi yang berlangsung dengan peserta seminar maka dirumuskanlah beberapa poin rumusan sebagai berikut:

Pertama, terdapat aspirasi dari kalangan masyarakat Ternate khususnya dan Maluku Utara pada umumnya untuk mengusulkan Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah sebagai Calon Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Kedua, mempertimbangkan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan perjuangan Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah sebagai usulan untuk dicalonkan sebagai Pahlawan Nasional untuk itu perlu ditindaklanjuti dengan penggalian sumber-sumber yang otentik dalam rangka penyusunan biografi tokoh yang bersangkutan secara konprehensif sesuai dengan prasyarat yang telah ditetapkan.

Ketiga, seminar mengusulkan untuk segera menetapkan sebuah kepanitiaan (TP2GD) yang akan melaksanakan tugas-tugas berkenaan dengan butir ke-2 (dua) diatas sebagai persyaratan untuk diusulkan sebagai salah satu syarat pengusulan Calon Pahlawan Nasional.

Berdasarkan rumusan tersebut dan diiringi dengan diskusi, maka Forum menyepakati secara bersama untuk menetapkan kesimpulan untuk merekomendasikan dan mengusulkan kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Sosial untuk mengangkat dan mengukuhkan Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Semangat seminar epos kepahlawanan Sultan Iskandar Muhammad Djabir yang diselenggarakan pada 12 tahun silam tersebut meskipun sempat terkendala saat tahapan kelanjutan dari langkah pengusulan tersebut, kini mulai dihidupkan kembali sebagaimana disampaikan langsung dalam sambutan Wali kota Ternate, Dr. M. Tauhid Soleman yang disambut tepukan tangan silmbol dukungan para peserta pada saat launching dan bedah buku tentang Sultan Baabullah Sang Penguasa Dari Timur yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Ternate di Pandopo Bala Kesultanan Ternate tersebut. Inilah jawaban atas pertanyaan siapa selanjutnya yang akan diusulkan oleh pemerintah kota Ternate dan Kesultanan Ternate dalam agenda pengusulan gelar kepahlawanan selanjutnya pasca Sultan Baabullah tersebut.

Hal tersebut turut diperkuat melalui harapan pihak kesultanan yang disampaikan melalui Tuli Lamo Kesultanan Ternate Irwan Gani dalam menyikapi sambutan Wali kota di momentum tersebut bahwa apa yang disampaikan Wali kota juga merupakan agenda kesultanan sembari berharap kolaborasi dan sinergisitas pasca seminar ini untuk membentuk tim pengkaji gelar daerah yang akan bekerja untuk mewujudkan agenda pengusulan tersebut dan memperjuangkan secara bersama-sama hingga terwujud nanti.

Disesi yang lain seusai kegiatan tersebut penulis berbincang bersama Prof. Dr. Susanto yang pernah penulis datangi di ruang kerjanya di Universitas Indonesia belasan tahun silam tersebutpun merespon penuh semangat dan penuh optimistis atas peluang yang akan dihadapi mengingat periode waktu masa hidup sang tokoh (mendiang Sultan) yang terbilang tidak terlalu lama dan peran besarnya dalam perjuangan sejarah bangsa hingga kemerdekaan. Saatnya untuk melangkah dari sekarang dipenghujung tahun ini dan jelang momentum perayaan hari jadi Ternate yang ke-775 pada 29 Desember 2025 esok. Semoga hari jadi Ternate di momentum tahun ini menjadi jalan pulang untuk kembali memperkuat kelembagaan adat dan menumbuhkembangkan kelembagaan sosial dalam bingkai 7 nilai dasar kebudayaan Ternate (Kie se Gam Mogugugu Matiti Tumdi). Dirgahayu Kotaku ke-775.