Oleh : Riswan Sanun
Ketua Umum Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Maluku Utara
Pendidikan menjadi fondasi utama bagi kemajuan sebuah daerah. Di tengah perubahan global yang begitu cepat, Maluku Utara dihadapkan pada tantangan besar yakni, bagaimana membangun sumber daya manusia yang mampu bersaing, beradaptasi, dan berkontribusi bagi masa depan daerah.
Dengan kekayaan alam yang melimpah, terutama sektor perikanan, pertambangan, dan pariwisata, Maluku Utara memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi penting di kawasan timur Indonesia. Namun tanpa transformasi pendidikan, potensi itu tak akan menghasilkan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal. Karena itu, pendidikan bukan sekadar sektor pendukung, melainkan motor utama pengerak transformasi Maluku Utara.
Lebih jelasnya transformasi dalam konteks daerah kepulauan seperti Maluku Utara membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan daerah yang berada di daratan besar. Topografi kepulauan membuat akses pendidikan tidak merata. Masih banyak anak di daerah pedalaman, pesisir, dan pulau kecil yang harus menempuh jarak jauh untuk mencapai sekolah.
Beberapa bahkan terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan transportasi maupun biaya hidup. Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi sistem pendidikan yang mampu menjangkau seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.
Secara umum pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga upaya membangun karakter, membuka wawasan, dan mempersiapkan generasi muda menjadi warga yang produktif. Jika transformasi pendidikan tidak dilakukan, maka Maluku Utara akan menghadapi ketimpangan struktural daerah kaya sumber daya alam, tetapi miskin sumber daya manusia. Inilah yang harus diantisipasi sejak dini.
Kesenjangan Kualitas dan Akses Pendidikan
Masalah mendasar yang masih dihadapi Maluku Utara saat ini adalah kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Kota Ternate mungkin telah menikmati fasilitas pendidikan yang memadai, namun di Halmahera Selatan sekolah yang jauh dari kabupaten belum sepenuhnya mendapatkan akses yang memadai baik itu tenaga pengajar juga infastruktur.
Hal yang sama juga terjadi di kabupaten kota yang lain misala Halmahera Timur, Morotai, Taliabu, dan beberapa wilayah kepulauan lainnya, kondisi masih jauh dari ideal.
Sekolah-sekolah di banyak desa kekurangan guru, terutama guru mata pelajaran sains, matematika, dan bahasa asing. Bahkan banyak sekolah hanya memiliki satu atau dua guru honorer yang harus mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus.
Ketimpangan fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, jaringan internet, dan sarana belajar lainnya semakin memperlebar jurang kualitas antara satu daerah dengan daerah lain.
Ketika kualitas pembelajaran berbeda jauh, peluang anak-anak untuk berkembang juga tidak sama. Padahal, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan terbaik, apa pun latar belakang dan tempat tinggal mereka.
Inilah titik awal yang harus dibenahi agar transformasi pendidikan benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Guru Motor Penggerak Utama
Guru merupakan aktor penting dalam sistem pendidikan. Tidak akan ada transformasi tanpa pemberdayaan guru. Saat ini tantangan besar di Maluku Utara bukan hanya kekurangan tenaga pendidik, tetapi juga minimnya pelatihan berkala untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi kurikulum yang selalu berubah di saat pergantian rezim juga teknologi terbaru.
Tidak bisa dipungkiri di era digital, guru dituntut mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran. Namun banyak guru di daerah terpencil kesulitan mengikuti perkembangan tersebut akibat keterbatasan akses internet maupun perangkat digital.
Pelatihan guru harus dirancang sedemikian rupa agar tidak hanya berbasis kota, tetapi juga menjangkau pulau-pulau dan wilayah terpencil diseluruh pelosok Maluku Utara.
Pemerintah daerah bisa mendorong transformasi dengan menyediakan program beasiswa khusus bagi anak-anak muda lokal yang ingin menjadi guru, serta memastikan mereka kembali mengabdi di daerahnya setelah lulus.
Langkah seperti ini akan mengurangi ketergantungan pada tenaga pendidik dari luar daerah sekaligus memperkuat pembangunan SDM lokal.
Digitalisasi “Peluang atau Tantangan di dunia Pendidikan”?
Pandemi Covid-19 membuka mata semua pihak bahwa digitalisasi pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Namun bagi Maluku Utara, digitalisasi menghadirkan tantangan kompleks. Masih banyak daerah yang mengalami kesulitan jaringan internet, bahkan belum terjangkau listrik dengan baik.
Meski demikian, justru di sinilah peluang transformasi dapat dimulai. Digitalisasi tidak selalu berarti pembelajaran melalui internet penuh. Tapi, pemerintah daerah dapat mengembangkan solusi hybrid seperti modul digital offline, perangkat pembelajaran berbasis aplikasi tanpa jaringan, serta penggunaan radio atau televisi lokal sebagai media pembelajaran tambahan.
Selain itu, kolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat jaringan internet terutama di wilayah sekolah-sekolah terpencil.
Jika digitalisasi berhasil dijalankan secara inklusif, maka Maluku Utara akan memiliki lompatan besar dalam kualitas pendidikan, sekaligus membuka akses yang lebih merata bagi seluruh siswa.
Pendidikan Berbasis Potensi Daerah
Transformasi pendidikan bisa juga diartikan membangun kurikulum yang relevan dengan potensi daerah. Maluku Utara dikenal dengan kekayaan lautnya, sumber daya mineral, serta daya tarik budaya dan sejarah yang paling unik. Namun apakah dunia pendidikan kita sudah mengembangkan kurikulum yang mendorong tumbuhnya generasi muda yang mampu mengelola potensi tersebut secara mandiri? Tentunya ini menjadi pertanyaan bagi semua pihak pemerintah, komunitas untuk menjawab hal tersebut.
Sekolah kejuruan di bidang perikanan, pariwisata, dan pertambangan ramah lingkungan perlu diperkuat. Universitas dan politeknik lokal juga harus mengembangkan program studi yang menyesuaikan kebutuhan ekonomi daerah.
Jika hal tersebut dapat dilakukan dengan baik maka, Maluku Utara tidak hanya akan menjadi penonton dalam pengelolaan sumber daya alamnya sendiri, tetapi tampil sebagai aktor utama yang memajukan perekonomian daerah.
Kolaborasi Pemerintah Komunitas dan Dunia Usaha
Transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Perlu kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas pendidikan, lembaga swasta, perusahaan tambang, perusahaan perikanan, dan badan usaha lainnya.
Perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Maluku Utara seharusnya berperan aktif melalui program CSR yang benar-benar menyentuh dunia pendidikan, bukan sekadar bantuan seremonial.
Program beasiswa, pembangunan perpustakaan digital, pelatihan guru, serta pemberian perangkat belajar merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat mendukung percepatan transformasi pendidikan. Ketika dunia usaha ikut terlibat, maka pendidikan akan semakin terintegrasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Pendidikan Karakter sebagai Landasan Moral
Transformasi pendidikan tidak hanya soal teknologi dan fasilitas, tetapi juga pembentukan karakter. Maluku Utara memiliki kekayaan budaya, nilai hidup, tradisi, dan kearifan lokal yang layak diintegrasikan dalam pendidikan. Pembelajaran berbasis karakter akan membekali generasi muda dengan etika, tanggung jawab sosial, serta kepedulian lingkungan, dan semangat kebersamaan.
Dalam konteks daerah yang sedang berkembang pesat seperti Maluku Utara, pendidikan karakter menjadi penting untuk menghindari masalah sosial seperti konflik lahan, eksploitasi sumber daya yang tidak bertanggung jawab, maupun kerusakan lingkungan. Anak muda harus tumbuh sebagai pemimpin masa depan yang beretika, visioner, dan mengutamakan kepentingan publik.
Transformasi Maluku Utara tidak mungkin terjadi tanpa transformasi pendidikan. Di era globalisasi yang kompetitif, kekuatan terbesar bukan lagi kekayaan alam, melainkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan yang merata, berkualitas, dan relevan dengan potensi daerah, Maluku Utara dapat membangun masa depan yang lebih cerah.
Harapan terbesar adalah agar seluruh elemen masyarakat menyadari bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini atau besok, tetapi dalam satu hingga dua dekade ke depan, generasi yang terdidik inilah yang akan memimpin Maluku Utara menuju kemajuan.
Karnea itu pendidikan adalah pintu, dan melalui pintu itu, Maluku Utara bisa melangkah menuju perubahan besar.




